Minggu, 14 Juni 2009

Seuntai Do'a

Diam termenung seorang diri menikmati kesunyian hati.
Tiadalah kesepian dalam jiwa ini sesaat ku ucap doa kepada sang Ilahi.
Hati menari bagaikan biduan menghibur para penonton dalam nyanyian.
Aku mulai memasuki alam bawah sadar, namun terasa begitu nikmatnya sekalipun hanya sejenak.
Dalam pejaman mata, aku melihat selembar jilbab berwarna merah jambu.
Daku bingung, apa arti tentang semua ini.
Ku bertanya pada Dia, apa itu wahai rasaku......?
Dia menjawab: itulah keanggunan untukmu wahai sibuta mata.
Nurani semakin bingung memikirkan jawaban dariNya.
Lambat laun, si merah jambu mulai memutarkan dirinya hingga terlihat aduhai...rupanya se-elok wajah cantik bercahaya bak rembulan purnama sedang merindu.
Jiwa ini terkejut dalam buaian desir hawa indah mengintai.
Daku semakin heran, dirinya mulai dekat kepada diriku.
Hati ini berdebar kencang laksana kapal laut diterpa badai topan dahsyat.
Hilanglah semua keseimbangan dalam isi bait-bait puisi doa dalam diriku.
Aduhaiiiiii.......mengapa semua berubah menjadi hujan salju, kemudian membekulah hati ini....?
Ya Allah......kenapa bebatuan beku mencairkan menjadi aliran madu manis dalam jiwa ini?
Mata sudah tak dapat melihat dengan jernih karena terlampau dosa yang begitu besar membuat mata hamba ini juling.
Se untai bait prosa menjawab: Itulah sebagian dari rekayasa keindahan dari-Ku. Inilah sesungguhnya yang harus kamu cari, miliki dan kamu rawat.
Daku mulai sedikit mengerti apa yang Dia titahkan ini dan jiwa serta mata semakin terpejam untuk tidak melepaskan indahnya sebingkai kain berwarna merah jambu.
Aku bertanya pada dia, duhai gerangan pemilik jilbab, ada apa ini semua, mengapa kau tersenyum kepadaku, padahal kita tidak pernah bertemu dan saling berkenalan?
Dia mejawab: Hanya dirimulah yang akan mejawabnya dike-esokan hari.
Jiwaku kini mulai tak mengenal keseimbangan diterpa rasa ingin berkenalan dan bercanda kasih.
Tapi nurani ini takut, malu untuk melakukannya. dia terlalu anggun buat diriku yang buta mata hatinya.
Duhai pemakai jilbab...........
Hendak beranjak kemana dikau....?
Tunggulah sejenak didepanku untuk kunikmati helaian rambutmu yang begitu mempesona bagaikan mutiara-mutiara yang tingg
al diindera mata.
Jangan kau tingg
alkan goresan rasa rindu ingin lama bersama kamu dalam jiwa ini.
Kau indah dalam pandangan mataku sekalipun mata ini juling.
Dirimu anggun dalam untaian dawai getar rasa cinta ini.
Panoramamu memberikan alunan musik nan syahdu, membuat batinku menari-nari diatas pelangi langit.
Apakah engkau akan pergi begitu saja meninggalkan aku duhai bidadari kesunyianku....?
Tunggulah sayangku, baiklah aku jujur tentang ini semua.
Nyanyian olehmu merubah keadaanku yang kosong kini mulai ter-isi sebaris bait syair.
Dengarkanlah duhai kekasihku.
Hadirmu adalah mutiaraku
Taukah kau dindaku :
Nyanyianmu adalah intanku
Sadarkah kau dindaku
Tarianmu adalah gelombang asmaraku
Mengertikah kau dindaku
Keanggunanmu adalah getar dawai hatiku.
Ingatkah kau dindaku
Jilbabmu adalah nafasku.
Wahai mentariku dalam kesunyian, sudah saatnya aku harus kembali keasalku.
Karena sang kekasih telah berkenan untuk aku berada disisi-Nya.
Kemarilah duhai separuh hatiku
Sebelum aku berangkat, izinkanlah diri ini merangkulmu, menggenggam erat tanganmu, ikhlaskanlah aku memakaikan kembali jilbab merah jambu ini untuk menjaga ke anggunanmu dihati,
Ridhokanlah bibir ini ku kecupkan kekeningmu dindaku.
Jawablah salam sultanmu ini dengan seberkas senyuman imanmu.
Berat dan sesak dada ini saat harus berrpisah denganmu duhai pelita nan pelipur laraku.
Tapi inilah suratan, bahwa dirimu hanya akan ada dalam anganku tanpa ada satu manusia pun yang boleh melihatnya.
Sungguh sebuah anugerah yang paling indah bila diriku hidup bersanding bersama wanita yang berada dalam khayalanku.
Oh Tuhan.................
Hanya satu bait yang hamba pinta kepadaMu " Berikanlah aku istri yang sholeha".
Sheila-scorpion in Abady'S



Tidak ada komentar:

Posting Komentar