Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat menjalani hidup secara individu. Sedikit banyak dari satu orang ke-orang lain pasti mempunyai kebutuhan, keinginan, dan juga kepentingan, dan semua yang kita inginkan itu tidak akan pernah terwujudkan tanpa adanya orang lain disisi kita. Dalam kehidupan didunia ini terdapat banyak komunitas mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Tapi walaupun demikian bukan berarti kedudukan dalam konsep sosial bawah dan atas itu menjadi tanda bahwa orang bawah tidak butuh pada orang atas begitu juga sebaliknya. Karena hidup yang kita jalani ini adalah konsep hidup manusiawi bukan konsep hidup Ilahiyah yang memang tidak butuh pada yang lainnya. Bicara masalah kesosialan, sudah tidak asing bagi kita dalam kehidupan ini istilah persahabatan, karena hal ini sudah terlahir sejak dari dulu masa Nabi Adam belum diturunkan kebumi hingga sampai sekarang. Persahabatan itu banyak manfaatnya dan banyak pula kemudharatannya. Dari ini, semua yang ada didunia ini tergantung yang menjalankannya. Jika dijalankan dengan cara yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan Hadist semuanya pasti berjalan dengan indahnya sebagaimana selarasnya perjalanan sang mentari diwaktu siang dan rembulan diwaktu malam. Begitu juga dalam persahabatan, seandainya semua persahabatan yang kita rajut dan kita bina diarahkan kepada hal yang positive pasti terasa indah dan membahagiakan hidup ini bagaikan disurga, namun tak sedikit dari kita membina dan menjalankan persahabatan itu kearah atau perbuatan negative sehingga tak heran hidup ini terasa susah dan menyengsarakan bagai hidup dineraka.
Kriteria seorang sahabat sejati adalah dia yang selalu mengarahkan kita untuk selalu berbuat baik tanpa meminta gaji sepeserpun dari kita. Dia selalu menangis jika kita mengalami kesusahan, dia merasa sakit jika kita teraniaya, dia merasa sedih jika kita sedih dan dia merasa bahagia jika kita bahagia. Tapi walaupun begitu, seorang sahabat tak harus selalu ada didekat kita, tak harus selalu bersama kita dan tak harus memenuhi keinginan kita sekalipun itu hanyalah sebiji padi atau jagung. Dia akan selalu mengerti tentang kita walaupun kita selalu atau sering melupakan kepentingan dia pribadi. Apalah arti semua itu bagi dirinya kalau dibandingkan dengan kebaikan kita agar selalu berada dijalan yang baik. Sekilas banyak problem yang kita hadapi namun ketika dirinya tersenyum melambangkan keoptimisan dan penuh keyakinan, segala kekhawatiran ini langsung lenyap bagaikan mimpi disaat kita terjaga dari tidur. Dalam mencari sahabat ini banyak versi yang menjelaskan kriteria seprti apa dan siapa sebenarnya sahabat sejati itu. Setahu penulis tentang hal ini, sahabat sejati itu tidak bisa dirasakan dengan badan, tidak bisa dilukiskan dengan pena, tidak bisa dihargai dengan intan berlian, dia hanya bisa dirasakan oleh nurani, dan dilukiskan dengan perasaan dan dihargai dengan kepatuhan serta keikhlasan. Dia tidak pernah minta apapun dari kita melainkan kebaikan, dia tidak pernah menyuruh kita melainkan kesempurnaan jiwa dan raga kita. Jika kita menangis air matanya yang jatuh berlinang menyamudera tiada tepi dan bila kita tersakiti dialah orang pertama yang menderita karena teluka hati dan nuraninya. Kita semua tahu siapa dia tapi seringkali kita melupakan dirinya bahkan terkadang kita tak menghiraukan karena pesona baru telah penutup mata hati kita yang sesungguhnya hanyalah tipuan sesaat, sedangkan dirinyalah pesona yang sesungguhnya dalam keabadian. Dan dia biasa dipanggil dengan sebutan yang paling indah dilisan dan paling mulya dihati yaitu IBU.
Dia selalu mengajarkan pada diriku bahwa " Persahabatan sejati bukan karena banyaknya pertemuan, tapi persahabatan sejati adalah ketulusan seorang sahabat menyebut namanya disetiap untaian doanya". Sheila-Scorpion In Abady'S
Selasa, 09 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar